RSS

SUMBER DAYA ALAM dan MANUSIA

19 Apr

1.1 Sumberdaya Alam dan Pemanfaatan Sumberdaya Alam

Sumberdaya adalah sesuatu yang memiliki nilai guna. Sumberdaya alam adalah keseluruhan faktor fisik, kimia, biologi dan sosial yang membentuk lingkungan sekitar kita. Hunker (1964 dalam Cutter, dkk, 2004) menyatakan bahwa sumberdaya alam adalah semua yang berasal dari bumi, biosfer, dan atmosfer, yang keberadaannya tergantung pada aktivitas manusia. Semua bagian lingkungan alam kita (biji-bijian, pepohonan, tanah, air, udara, matahari, sungai) adalah sumberdaya alam. Bagaimana keberadaan sumberdaya alam tersebut sangat tergantung pada pilihan-pilihan bentuk pengelolaan yang dilakukan oleh umat manusia. Biji, benih, pohon, air, udara, matahari, sungai, dikatakan sumberdaya ketika kita mengetahui nilai gunanya. They are the ‘neutral stuff’ that makes up the world, but they become resources when we find utility in them (Hunker, 1964).

Nilai guna atau manfaat suatu sumberdaya tergantung pada berbagai konteks ekonomi, politik, dan budaya. Mari kita pahami bagaimana sumberdaya ada atau muncul, digunakan atau dimanfaatkan, bahkan diperebutkan pada akhirnya. Cara manusia memanfaatkan sumberdaya alam terus berkembang dari waktu ke waktu. Diawali dengan cara berburu dan meramu sampai dengan pemanfaatan berbagai teknologi terkini yang terus berkembang. Dari sekedar mencukupi kebutuhan dasar pada periode waktu tertentu sampai dengan pemenuhan kebutuhan melampaui kebutuhan dasar manusia, berikut penumpukan sumberdaya alam untuk waktu yang tak terbatas. Lalu bagaimanakah manusia memandang alam sebagai sumberdaya yang penting bagi kehidupannya?

Cara pandang manusia terhadap sumberdaya alam sangat mempengaruhi kesadaran lingkungan dan cara kelola umberdaya alam yang dilakukannya. Kesadaran lingkungan merupakan suatu proses mental yang membentuk pengertian tertentu atas sumberdaya alam dan lingkungan sekitar kita. Setidaknya ada lima faktor yang mempengaruhi penggunaan sumberdaya alam oleh manusia. Kelima faktor tersebut adalah kondisi atau latar belakang budaya, cara pandang terhadap sumberdaya alam, kondisi sosial, kelangkaan, serta faktor ekonomi dan teknologi.

1. Latar Belakang Budaya

Dunia ini terdiri dari berbagai budaya, dan masing-masing memiliki sistem nilai yang berbeda. Demikian pula pada budaya yang berbeda terdapat cara menilai sumberdaya alam yang berbeda pula. Kebiasaan dan tradisi pemanfaatan sumberdaya alam oleh suatu masyarakat dengan budaya tertentu berbeda denan kebiasaan dan tradisi masyarakat lainnya. Masing-masing memiliki pilihannya.

2. Cara Pandang Terhadap Sumberdaya Alam

Perbedaan paradigma atau ideologi dalam memandang sumberdaya alam melahirkan perbedaan dalam pemanfaatan sumberdaya alam, pemikiran-pemikiran tentang masa depan sumberdaya alam, dan pemanfaatan sumberdaya alam oleh generasi yang akan datang. Setidaknya ada dua teori sosial tentang alam (nature) atau lingkungan (environment) yaitu pendekatan naturalis (naturalist) dan konstruksi sosial (social construstionist). Pendekatan pertama teori sosial naturalis secara umum mengambil pandangan bahwa alam dan lingkungan merupakan dunia eksternal dari masyarakat dan keberadaannya sebagai suatu tatanan yang independen di luar masyarakat. Sementara itu pendekatan kedua, teori konstruksi sosial melihat lingkungan dan alam sebagai konstruksi dari masyarakat dan oleh karena itu analisis difokuskan pada hubungan internal dalam masyarakat (Barry, 1999, dalam Awang, 2005). Masing-masing teori melahirkan cara pandang yang berbeda dan pada akhirnya mempengaruhi pola pemanfaatan sumberdaya alam yang dilakukan.

3. Kondisi Sosial

Kondisi sosial mempengaruhi nilai dan pemanfaatan sumberdaya alam. Sistem sosial (struktur sosial dan proses sosial di dalamnya) senantiasa berubah seiring perjalanan waktu. Umur manusia bertambah, komposisi penduduk berubah, kesejahteraan masyarakat terus berkembang, semua itu berkontribusi pada dinamika kultural dalam masyarakat yang pada akhirnya mempengaruhi sistem nilai dan pemanfaatan sumberdaya alam.

4. Kelangkaan Sumberdaya Alam

Semakin langka suatu sumberdaya, maka nilainya akan semakin bertambah. Ada dua jenis kelangkaan sumberdaya alam yaitu kelangkaan absolut dan kelangkaan relatif. Kelangkaan absolut (absolute scarcity) yaitu keberadaan sumberdaya alam tertentu yang memang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sampai masa yang akan datang. Kelangkaan relatif (relative scarcity) yaitu kelangkaan yang disebabkan oleh distribusi ketersediaan sumberdaya alam yang tidak merata, langka di suatu tempat namun berlimpah di tempat lain (fluktusi iklim, banjir, kekeringan).

5. Faktor Ekonomi dan Teknologi

Faktor ekonomi dan teknologi mempunyai kolerasi dengan pengetahuan dan kemampuan dalam mengeksploitasi sumberdaya alam. Teknologi berhubungan dengan pengetahuan dan keterampilan dalam pemanfaatan sumberdaya alam, ementara faktor ekonomi merujuk pada konsep pemberian nilai (price) untuk sumberdaya tertentu, komersialisasi, dan komodifikasi sumberdaya alam. Kesemua faktor tersebut pada akhirnya saling berhubungan dan saling mempengarusi dalam dinamika pemaanfaatan sumberdaya alam oleh manusia.

1.2 Klasifikasi Sumberdaya Alam

Ada berbagai cara mengklasifikasi sumberdaya alam. Diantaranya adalah dengan berdasar pada bagaimana sumberdaya alam tersebut dapat terbarukan dan siapa yang mendapatkan manfaat dari sumberdaya alam tersebut.

  1. Perpetual resources merupakan sumberdaya yang tersedia secara terus menerus. Sumberdaya yang selalu tersedia tersebut adalah matahari
  2. Renewable or flow resources merupakan sumberdaya yang terbarukan. Misalnya : hutan, air, sumberdaya perikanan.
  3. Nonrenewable or stock resources merupakan sumberdaya yang tidak terbarukan. Misalnya : sumberdaya mineral
  4. Potential resources merupakan pada saat sekarang bukan merupakan sumberdaya, namun di masa yang akan datang sangat memungkinkan menjadi sumberdaya, tergantung pada perkembangan paradigma, faktor teknologi, dan faktor ekonomi.

Tentu saja masing-masing sumberdaya alam tersebut menuntut bentuk pemanfaatan yang berbeda. Bagi sumberdaya alam yang tak dapat diperbaharui, misalnya minyak bumi, batu kapur, batu bara, emas dan sebagainya, cepat atau lambat akan mengalami kepunahan atau habis. Dalam kondisi seperti ini, tentunya upaya konservasi yang dapat dilakukan adalah tindakan penghematan, agar sumberdaya tersebut tidak habis dan dalam waktu yang sangat cepat, atau harus selalu dipikirkan untuk mencari alternatif penggantinya (substitusinya). Sedang bagi sumberdaya alam yang dapat diperbaharui, misalnya hutan, tanaman pertanian, ikan, terhak dan sebagainya, kesinambungan pemanfaatannya dapat dipertahankan, sepanjang kegiatan usahanya dilakukan secara bijaksana, yaitu dengan cara melakukan kegiatan eksploitasi dengan kuantitas yang tidak pernah melebihi batas kemampuansumberdaya tersebut untuk pulih kembali (reversible).

1.3 Kerusakan Sumberdaya Alam

Upaya manusia beradaptasi dengan alam untuk survive serta keterbatasan sumberdaya alam yang tersedia di antara besarnya kebutuhan manusia yang tak terbatas pada akhirnya mendatangkan kerusakan dan penurunan kualitas lingkungan. Hutan adalah salah satu contohnya. Sejak kebutuhan kayu oleh manusia meningkat, pada saat itulah terjadi pengurasan hutan . Sebagai gambaran, duapuluh tahun yang lalu, pengurasan hutan di dunia mencapai 200.000 – 250.000 km2 hutan tropika basah setiap tahunnya. Sementara itu, berkembangnya era industrialisasi dan urbanisasi telah banyak merubah bentang alam, sehingga menyebabkan semakin terdesaknya kawasan hutan karena digantikan oleh tumbuhnya gedung ataupun konversi ke bentuk budidaya yang lain. Akibatnya, semakin hari, semakin bertambah terjadinya krisiskrisis lingkungan yang pada akhirnya akan memberikan efek negatif kepada manusia dan lingkungan hidup. risis-krisis lingkungan, sebagai akibat tidak seimbangnya pemanfaatan sumberdaya alam dengan pembangunan atau rehabilitasi pada akhirnya melahirkan pemikiran untuk mengkonservasi sumberdaya alam. Banyak upaya dilakukan antara lain dengan prinsip-prinsip mengurangi eksplorasi (reduce), menggunakan kembali (reuse), mendaur ulang (recycle) memulihkan kembali (recovery), serta memperbaiki kembali (reserve).

2.1 Sumber Daya Manusia

Terdapat beberapa pengertian mengenai sumber daya manusia. Menurut Nawawi (2001) ada tiga pengertian sumber daya manusia yaitu:

  1. Sumber daya manusia adalah manusia yang bekerja dilingkungan suatu organisasi (disebut juga personil, tenaga kerja, pekerja atau karyawan).
  2. Sumber daya manusia adalah potensi manusiawi sebagai penggerak organisasi dalam mewujudkan eksistensinya.S
  3. Sumber daya manusia adalah potensi yang merupakan aset dan berfungsi sebagai modal (non material atau non finansial) di dalam organisasi bisnis, yang dapat mewujudkan menjadi potensi nyata (real) secara fisik dan non-fisik dalam mewujudkan eksistensi organisasi.

Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa sumber daya manusia adalah suatu proses mendayagunakan manusia sebagai tenaga kerja secara manusiawi, agar potensi fisik dan psikis yang dimilikinya berfungsi maksimal bagi pencapaian tujuan organisasi (lembaga). Disamping itu, manusia adalah makhluk Tuhan yang kompleks dan unik serta diciptakan dalam integrasi dua substansi yang tidak berdiri sendiri yaitu tubuh (fisik atau jasmani) sebagai unsur materi, dan jiwa yang bersifat non materi. Hubungan kerja yang paling intensif dilingkungan organisasi adalah antara pemimpin dengan para pekerja (staf) yang ada di bawahnya. Hubungan kerja semakin penting artinya dalam usaha organisasi mewujudkan eksistensinya dilingkungan tugas yang lebih luas dan kompetetif pada masa yang akan datang.

Sumber daya manusia memiliki keinginan, harga diri, pikiran, hak asasi, ingin dihormati dan lain-lain. Oleh karena itu sumber daya manusia harus diperlakukan sama secara hatihati dan penuh kearifan. Sumber daya manusia adalah ujung tombak pelayanan, sangat diandalkan untuk memenuhi standar mutu yang diinginkan oleh wajib pajak dan wajib retribusi. Untuk mencapai standar mutu tersebut, maka harus diciptakan situasi yang mendukung pelayanan yang memuaskan wajib pajak dan wajib retribusi. Upaya-upaya manusia itu bukan sesuatu yang statis, tetapi terus berkembang dan berubah, seirama dengan dinamika kehidupan manusia, yang berlangsung dalam kebersamaan sebagai suatu masyarakat. Oleh karena itu salah satu situasi yang mendukung adalah seluruh peraturan pengelolaan sumber daya manusia yang berdampak pada perlakuan yang sama kepada pegawai. Pada dasarnya kebutuhan umum yang dituntut oleh manusia terdiri dari dua macam, yaitu kebutuhan material dan kebutuhan spritual. Pembagian kebutuhan seperti ini terlalu umum untuk dijadikan pedoman dalam memotivasi bawahan. Oleh karena itu, Maslow (dalam Siagian, 1981) menyebutkan 5 tingkatan kebutuhan manusia, yang secara umum dapat dijelaskan sebagi berikut:

1. Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs)

Yang termasuk dalam kebutuhan ini, misalnya sandang, pangan, papan, dan tempat berlindung. Kebutuhan ini termasuk kebutuhan primer dan mendesak sifatnya. Untuk itu seorang pimpinan yang ingin insruksi dan perintahnya dilaksanakan hendaknya dapat memenuhi kebutuhan tersebut.

2. Kebutuhan Keamanan (Safety Needs)

Yang termasuk dalam kebutuhan ini, misalnya kebutuhan akan keamanan jiwa terutama dalam jam-jam kerja. Kebutuhan akan keamanan kantor ditempat kerja, termasuk jaminan hari tua.

3. Kebutuhan social (Social Needs)

Yang termasuk pada tingkatan kebutuhan ini, misalnya kebutuhan untuk dihormati, kebutuhan untuk bisa diterima dilingkungan kerja, keinginan untuk maju dan tidak ingin gagal, kebutuhan akan perasaan untuk turut serta memajukan organisasi.

4. Kebutuhan Prestise (Esteem Needs)

Pada umumnya pegawai akan mempunyai prestise setelah mempunyai prestasi. Dengan demikian prestasi pegawai perlu diperhatikan oleh pimpinan organisasi. Biasanya, pegawai yang telah mempunyai prestasi yang lebih tinggi akan terus berupaya untuk meningkatkan prestasinya secara maksimal

5. Kebutuhan mempertinggi kapasitas kerja (Self Actualization)

Setiap karyawan pasti ingin mengembangkan kapasitas kerjanya secara optimal, misalnya melalui pendidikan latihan, seminar, dan sebagainya. Kebutuhan-kebutuhan untuk mengembangkan kapasitas kerja tersebut perlu mendapatkan perhatian pimpinan.

 
Leave a comment

Posted by on April 19, 2015 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: